Newtechclub.com – Jack Dorsey, sang pendiri X/Twitter, secara mengejutkan menghidupkan kembali aplikasi berbagi video pendek legendaris, Vine, yang dahulu ia tutup pada 2017. Kini, Vine bereinkarnasi dengan nama yang lebih chic, “diVine”. Bisa dibilang, diVine hadir sebagai mesin waktu digital karena aplikasi ini dengan ajaib memulihkan ratusan ribu video vintage yang tersimpan sejak era kejayaan Vine, tepat sebelum platform ini tutup sewindu yang lalu.
Tak cuma sekadar memutar memori, diVine juga dengan gagah memberikan panggung bagi para penggunanya untuk mengunggah video-video baru. Namun, diVine langsung menancapkan taringnya dengan membuat aturan utama: TOLAK TAX keras konten Artificial Intelligence (AI) generatif! Sistem diVine secara otomatis akan menandai dan mencegah unggahan video yang terdeteksi sebagai buatan AI agar tidak bisa diposting. Kebijakan berani ini langsung menjadi pembeda yang sangat mencolok jika kita bandingkan dengan platform berbagi video singkat lainnya yang justru kebanjiran konten AI.
Lalu, bagaimana sih cara diVine memastikan bahwa sebuah video benar-benar karya tangan manusia? Di balik layar, diVine memercayakan proses verifikasi ini pada teknologi canggih dari Guardian Project, sebuah lembaran nirlaba yang fokus pada hak asasi manusia. Teknologi mereka akan memeriksa dan memastikan bahwa konten tersebut benar-benar direkam melalui kamera smartphone dan melewati serangkaian pemeriksaan otentikasi lainnya. Proses ini sengaja dirancang untuk menjaga integritas dan keaslian kreasi manusia di platform tersebut.
Peluncuran kembali diVine ini didanai sepenuhnya oleh Jack Dorsey melalui lembaga nirlaba miliknya, “and Other Stuff”, yang secara khusus ia bentuk pada Mei 2025 lalu. Dorsey tidak sendirian dalam petualangan ini; ia dibantu oleh Evan Henshaw-Plath, salah satu karyawan awal X/Twitter yang sangat memahami seluk-beluk Vine. Peran Henshaw-Plath atau yang akrab disapa Rabble ini sangat krusial karena ia bertugas menggali dan membongkar arsip Vine yang sebelumnya diselamatkan oleh sebuah grup bernama Archive Team.
Komunitas Archive Team ini patut diacungi jempol! Perlu dicatat, inisiatif mereka tidak terafiliasi dengan organisasi Archive.org. Mereka adalah sekumpulan relawan yang dengan gigih bekerja sama untuk menyelamatkan situs-situs web internet yang terancam punah atau hilang ditelan zaman. Berkat jerih payah merekalah, harta karun Vine tidak punah selamanya.
Rabble, sang pahlawan di balik layar, menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menulis skrip big data yang rumit dan memecahkan kode dari berkas-berkas lawas Vine. Kemudian, dengan kesabaran luar biasa, ia merekonstruksi semua data tersebut bersama dengan informasi mengenai para pengguna lama dan interaksi mereka dengan video-video yang ada. “Saya tidak bisa mengembalikan semuanya, tapi saya berhasil mendapatkan cukup banyak data. Pada intinya, saya berhasil merekonstruksi Vine beserta jejaring penggunanya, dan memberikan setiap orang profil baru di dalam jaringan terbuka ini,” ungkap Rabble seperti yang dikutip dari TechCrunch.
Dia memproyeksikan bahwa cukup banyak video populer Vine yang akan kembali hidup. Sayangnya, video-video berdurasi panjang, seperti yang bertema K-pop, tidak terlalu banyak yang bisa diselamatkan. “Kami berhasil mengumpulkan sekitar 150.000 hingga 200.000 video dari kurang lebih 60.000 kreator,” jelasnya. Angka ini terasa sangat spesial mengingat pada masa jayanya, Vine memiliki basis beberapa juta pengguna dan kreator.
Lalu, bagaimana nasib para kreator Vine original? Bagi mereka yang masih memegang hak cipta atas karya-karyanya, diVine memberikan hak untuk mengajukan permintaan penghapusan jika mereka tidak ingin videonya tampil di platform baru ini. Mereka juga dapat memverifikasi diri sebagai pemilik akun asli dengan cara menunjukkan bio mereka yang dulu di Vine. Setelah akun mereka pulih, mereka bebas memilih untuk mengunggah video baru atau bahkan mengunggah konten lama mereka yang mungkin belum sempat tayang.
Yang tak kalah keren, diVine dibangun di atas fondasi Nostr, sebuah protokol terdesentralisasi yang sangat diminati Jack Dorsey. Protokol open-source ini memberikan kebebasan mutlak bagi para pengembang untuk menyiapkan aplikasi, hosting, dan relay server media mereka sendiri. “Alasan saya mendanai ‘and Other Stuff’ adalah untuk memungkinkan para insinyur brilian seperti Rabble menunjukkan segala kemungkinan yang bisa dicapai di dunia baru ini, dengan menggunakan protokol bebas yang tidak bisa dihentikan hanya karena keinginan sepihak seorang pemilik perusahaan,” tegas Dorsey dalam sebuah pernyataan.
Di sisi lain, pemilik X/Twitter saat ini, Elon Musk, sebenarnya juga pernah mengumumkan rencananya untuk menghidupkan kembali Vine sekitar Agustus 2025 lalu. Namun, hingga detik ini, belum ada realisasi proyek Vine dari Musk yang terlihat. Kehadiran diVine dari Dorsey ini dinilai sangat wajar dan tidak menimbulkan konflik karena kontennya murni berasal dari arsip online, dan hak cipta tetap sepenuhnya di tangan pemilik aslinya.
Kabar baiknya, aplikasi diVine sudah bisa diunduh oleh pengguna perangkat iOS dan Android secara global. Kalian bisa mengunjungi situs web DiVine.video untuk mendapatkan aplikasinya. Namun, berdasarkan pantauan pada saat berita ini ditayangkan, aplikasi ini belum muncul di Play Store untuk pengguna yang berada di Indonesia. Jadi, bagi kalian para pecinta Vine di tanah air, bersiaplah untuk sedikit menanti atau mencari cara lain untuk bisa merasakan lagi sensasi nostalgia diVine!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id







