Site icon New Tech Club

Hanya 0,3% dari Biaya OpenAI? Fakta Mengejutkan di Balik Anggaran Training AI DeepSeek

Newtechclub.com – Dalam sebuah gebrakan yang mengguncang dunia teknologi, perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) asal China, DeepSeek, dengan percaya diri mengungkap rahasia di balik pelatihan model terbarunya, R1. Sungguh mengejutkan, mereka berhasil melatih model canggih itu dengan biaya yang hanya menyentuh angka 294.000 dollar AS atau sekitar Rp 4,87 miliar. Sebagai perbandingan, angka ini terpaut sangat jauh, bahkan cenderung tidak masuk akal, jika kita bandingkan dengan biaya fantastis yang biasa dikeluarkan oleh pesaing mereka di Amerika Serikat (AS). Kemudian, untuk memperkuat kredibilitasnya, informasi transparan ini sengaja mereka muat dalam artikel ilmiah prestisius yang diterbitkan oleh jurnal Nature pada Rabu, 17 September 2025. Tidak berhenti di situ, momen ini juga secara resmi menandai pertama kalinya perusahaan berbasis di Hangzhou itu membuka kedok tentang estimasi biaya pelatihan R1, sebuah langkah berani yang jarang dilakukan oleh perusahaan AI global.

“Dengan bangga kami nyatakan, model penalaran DeepSeek-R1 berhasil kami latih dengan biaya efisien sebesar 294.000 dollar AS. Proses ini kami lakukan dengan memanfaatkan 512 chip Nvidia H800,” tulis tim peneliti yang dengan transparan mencantumkan nama pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, seperti yang dilaporkan Reuters pada Jumat (18/9/2025). Pengungkapan biaya super efisien ini langsung memantik perdebatan panas di kalangan ahli dan pelaku industri mengenai posisi China dalam persaingan global mengembangkan teknologi AI. Bahkan, kita masih ingat, pada Januari lalu, peluncuran sistem AI berbiaya rendah milik DeepSeek saat itu sempat membuat investor global kalang kabut, yang akhirnya memicu aksi jual massal terhadap saham-saham teknologi. Sejak peristiwa itu, Liang Wenfeng dan timnya sengaja memilih untuk jarang muncul di publik, dan mereka hanya kembali ke spotlight saat merilis pembaruan produk penting.

Selanjutnya, mari kita bandingkan dengan realitas yang terjadi di kubu AS. Sebagai contoh nyata, CEO OpenAI, Sam Altman, pada 2023 lalu pernah dengan gamblang menyebut bahwa pelatihan “model dasar” saja memerlukan dana yang “jauh lebih besar dari 100 juta dollar AS”. Akan tetapi, menariknya, hingga saat ini OpenAI sendiri belum pernah merinci angka pasti dan transparan untuk biaya pelatihan produk-produk andalannya seperti GPT-4. Perlu kita pahami bersama, pelatihan model bahasa berskala besar biasanya memang melibatkan pengoperasian ribuan chip berdaya tinggi selama berminggu-minggu tanpa henti. Tujuannya jelas, yaitu untuk memproses data teks dan kode pemrograman dalam jumlah yang benar-benar masif.

Di balik efisiensi biaya yang diklaim DeepSeek, ternyata muncul kontroversi terkait chip dan akses teknologi yang mereka gunakan. Beberapa pernyataan DeepSeek soal biaya pengembangan dan teknologi sempat dipertanyakan secara serius oleh perusahaan serta pejabat AS. Sebagai informasi, chip H800 yang mereka sebut dalam penelitian tersebut sebenarnya merupakan varian Nvidia khusus untuk pasar Tiongkok. Chip ini sengaja dirancang dan diluncurkan setelah Amerika Serikat (AS) menerapkan kebijakan tegas dengan melarang ekspor chip AI kelas atas, seperti seri H100 dan A100, pada Oktober 2022 silam. Bahkan, pejabat AS pada Juni lalu sempat melontarkan klaim mengejutkan bahwa DeepSeek disebut-sebut memiliki akses ke “volume besar” chip H100 yang dilarang, meski aturan embargo sudah berlaku. Namun, di sisi lain, Nvidia dengan tegas membantah hal tersebut dan menegaskan bahwa DeepSeek secara sah hanya menggunakan chip H800 yang diperoleh secara legal, bukan H100.

Yang membuat analisis ini semakin mendalam, dalam dokumen tambahan yang menyertai artikel Nature, DeepSeek untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui kepemilikan chip A100. Mereka menjelaskan bahwa chip tersebut sebelumnya digunakan khusus pada tahap persiapan sebelum pelatihan utama dimulai. “Untuk keperluan penelitian DeepSeek-R1, tim kami memanfaatkan GPU A100 secara optimal pada fase awal pengembangan dengan model yang lebih kecil. Setelah tahap persiapan itu selesai, model R1 akhirnya dilatih secara intensif selama total 80 jam menggunakan kluster 512 chip H800,” tulis para peneliti tersebut dengan rinci. Sebelumnya, industri juga telah mengetahui bahwa DeepSeek sukses menjadi magnet kuat bagi talenta AI terbaik di China karena mereka merupakan salah satu dari sedikit perusahaan lokal yang mampu mengoperasikan kluster superkomputer berbasis A100. Fakta ini semakin mengukuhkan posisi mereka sebagai pemain serius yang patut diperhitungkan dalam peta persaingan AI global, membuktikan bahwa inovasi dan efisiensi bisa datang dari mana saja.

Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id

Exit mobile version