Site icon New Tech Club

OpenAI Dikabarkan Siapkan Hardware AI Kedua, Speaker Mungil Hasil Kolaborasi dengan Jony Ive

Newtechclub.com – Siapa sangka, perusahaan di balik kecerdasan buatan super populer, ChatGPT, sedang diam-diam meracik perangkat keras terbaru yang bakal menggebrak pasar teknologi. Bocoran menggemparkan datang dari laporan terpercaya yang menyebut bahwa OpenAI tengah menyiapkan perangkat inovatif bertenaga kecerdasan buatan atau AI. Yang membuat publik semakin penasaran, gadget anyar ini kabarnya hadir dalam wujud speaker pintar tanpa layar yang mengandalkan daya dari baterai internal, bukan colokan listrik seperti kebanyakan perangkat sejenis di pasaran.

Kolaborasi Mewah: OpenAI Bertemu Legenda Desain Apple

Yang bikin proyek ini makin menarik adalah keterlibatan nama besar di balik layar, yaitu LoveFrom, sebuah firma desain ternama yang didirikan oleh mantan desainer legendaris Apple, Jony Ive. Siapa sih yang tak kenal Jony Ive? Dialah otak di balik desain ikonik produk-produk Apple seperti iPhone, iMac, dan iPad yang selama ini kita kagumi. Nah, kolaborasi antara raksasa AI dan maestro desain ini seolah menjadi janji bahwa perangkat yang akan lahir bukan hanya cerdas, tapi juga punya nilai estetika yang tinggi. Ini bukan sekadar proyek biasa, melainkan persekutuan dua kekuatan besar yang siap menciptakan gebrakan baru di industri gadget.

Speaker Mungil Sebesar Tatakan Gelas, Tapi Harganya Selangit!

Jika semua kabar ini terbukti benar, peluncuran speaker pintar tersebut akan mencatatkan sejarah sebagai perangkat keras kedua yang dirilis OpenAI. Sebelumnya, mereka sudah lebih dulu meluncurkan keyboard coding “Codex Micro” pada Juli lalu. Namun, yang membedakan kali ini adalah statusnya sebagai gadget pertama OpenAI yang benar-benar ditenagai langsung oleh kecerdasan buatan canggih. Artinya, ini bukan sekadar aksesoris biasa, melainkan wujud nyata ambisi OpenAI untuk merambah dunia hardware dengan jiwa AI yang kental. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber internal oleh media Bloomberg, bentuk fisik speaker pintar ini terbilang unik dan mungil. Ukurannya diperkirakan hanya sebesar tatakan gelas atau mirip dengan speaker Amazon Echo Dot generasi kedua yang sudah populer itu. Bayangkan bentuknya yang disebut-sebut menyerupai donat dengan diameter selebar telapak tangan orang dewasa, atau mungkin sedikit lebih besar dari tutup cangkir minuman kesukaan Anda. Ukuran yang super kompak ini jelas memberi kesan bahwa perangkat tersebut dirancang untuk mudah dibawa kemana-mana. Meski berukuran mini, jangan kaget dengan banderol harga yang dibanderol untuk gadget mungil ini. Kabarnya, OpenAI membanderol speaker pintar ini dengan harga sekitar 300 hingga 400 dollar AS. Jika kita konversikan ke rupiah, nilainya berkisar antara Rp 5,3 juta hingga Rp 7,1 juta. Harga yang cukup fantastis untuk sebuah speaker pintar, namun sebanding dengan teknologi AI canggih yang kabarnya akan disematkan di dalamnya.

Bukan Sekadar Speaker: Asisten AI yang Bisa Belajar dan Bergerak Sendiri

OpenAI sepertinya memiliki ambisi besar untuk menjadikan perangkat ini sebagai asisten AI pribadi yang setia menemani pengguna sepanjang hari. Pengalaman yang ditawarkan pun diklaim akan sangat mirip dengan sensasi menggunakan ChatGPT Voice yang sudah bisa kita nikmati di iPhone. Bedanya, kali ini pengalaman tersebut hadir dalam bentuk fisik yang bisa kita sentuh dan bawa ke mana saja, seperti memiliki teman pintar yang selalu siap sedia membantu. Salah satu daya tarik terbesar dari speaker ini adalah kemampuannya dalam menjalankan model AI yang konon lebih canggih dibandingkan layanan ChatGPT yang saat ini tersedia untuk publik.

Meski OpenAI masih enggan merinci model spesifik apa yang akan digunakan, janji akan kecanggihan di atas rata-rata ini tentu membuat para penggemar teknologi penasaran. Yang jelas, perangkat ini diprediksi bakal mampu memberikan pengalaman interaksi yang lebih kaya dan mendalam. Seperti halnya lini speaker Echo milik Amazon yang sudah sangat populer, perangkat OpenAI ini juga diklaim memiliki kemampuan untuk mempelajari kebiasaan penggunanya seiring berjalannya waktu. Proses pembelajaran ini memungkinkan speaker untuk memberikan respons yang semakin personal dan relevan dengan kebutuhan pengguna setiap harinya. Dengan demikian, interaksi antara manusia dan mesin pun terasa lebih natural dan humanis.

Fakta menarik lainnya adalah perbedaan mendasar antara speaker pintar OpenAI dengan produk sejenis seperti HomePod buatan Apple. Jika HomePod harus selalu terhubung ke sumber listrik, speaker anyar ini justru mengandalkan baterai internal sehingga bisa digunakan secara portabel, bahkan bisa digenggam. Selain itu, untuk mendukung interaksi yang lebih kaya, perangkat ini dilengkapi dengan mikrofon dan speaker. Yang lebih mencengangkan lagi, ada kamera yang tertanam untuk menangkap informasi visual, yang kemudian akan diproses oleh ChatGPT atau model AI lain yang digunakan. Tak berhenti di situ, laporan menyebutkan bahwa perangkat ini juga memiliki komponen bergerak yang memungkinkan perangkat bergerak secara otomatis ketika merespons pengguna. Meski hingga kini mekanisme pergerakannya masih menjadi misteri, fitur ini jelas menambah kesan futuristik dan interaktif pada gadget AI tersebut. Bayangkan, speaker kecil ini bisa bergerak-gerak mungil layaknya makhluk hidup saat diajak bicara.

Di Balik Layar: Jadi Bukti Bantahan untuk Gugatan Apple?

Yang tak kalah menarik, sumber dari Bloomberg mengungkap bahwa kehadiran perangkat ini juga berfungsi sebagai bukti untuk membantah tudingan serius dari Apple. Sebelumnya, Apple memang mengajukan gugatan ke OpenAI terkait dugaan pencurian rahasia dagang dan kekayaan intelektual oleh dua mantan karyawan mereka yang kini bergabung dengan OpenAI. Menariknya, nama Jony Ive sama sekali tidak disebut-sebut dalam gugatan tersebut, sehingga ini menambah lapisan intrik tersendiri. Meski bentuk perangkat dibuat berbeda, kabar tentang material premium dan logam berkualitas tinggi yang akan digunakan justru memicu spekulasi baru. Sumber yang sama menyebutkan bahwa penggunaan material mewah ini menjadi salah satu cara OpenAI untuk menunjukkan independensi desain mereka. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mungkin dalam kurun waktu hanya sekitar empat pekan sejak gugatan dilayangkan, OpenAI bisa melakukan penyelidikan internal menyeluruh terhadap seluruh tumpukan teknologi produk yang kabarnya sudah mendekati tahap peluncuran. Untuk sekadar perbandingan, penilaian serupa terhadap desain smartphone Samsung dalam gugatan besar Apple sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Selain itu, proses penyelesaian akhir atau finishing untuk logam berkualitas tinggi juga memerlukan waktu dan keahlian khusus. Ironisnya, salah satu poin penting dalam dokumen gugatan pertama yang diajukan Apple adalah dugaan pencurian teknik metal finishing milik mereka. Jadi, meski desain fisiknya dibuat berbeda, hal itu tidak serta-merta menutup kemungkinan adanya pelanggaran kekayaan intelektual. Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan perangkat AI misterius ini akan diperkenalkan ke publik. Namun, satu hal yang jelas, gebrakan OpenAI dan Jony Ive ini telah berhasil mencuri perhatian dunia. Kita semua tinggal menunggu waktu untuk melihat apakah speaker pintar sekecil tatakan gelas ini akan menjadi terobosan besar atau justru hanya gimmick belaka. Yang pasti, persaingan di dunia teknologi semakin memanas, dan kita sebagai pengguna hanya bisa berdecak kagum menantikan inovasi berikutnya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version