Site icon New Tech Club

Tin Can, Telepon Jadul yang Kembali Digunakan Pelajar AS untuk Kurangi Screen Time

Newtechclub.com –Tren kuno sekarang lagi viral di Amerika Serikat. Bukan smartphone terbaru, melainkan sebuah perangkat bernama Tin Can yang tiba-tiba jadi primadona anak sekolah dan para orang tua.

Coba bayangkan: alih-alih remaja sibuk menggeser layar sentuh, mereka kini kembali ke gaya komunikasi era 90-an. Perusahaan rintisan ini sengaja mendesain Tin Can menyerupai telepon rumah tempo dulu. Perangkat ini bahkan memiliki papan khusus untuk meletakkan gagang teleponnya. Sungguh pemandangan yang unik di tengah gempuran aplikasi kekinian!

Kenapa Orang Tua dan Sekolah Jatuh Hati?

Para orang tua dan pihak sekolah kini berbondong-bondong melirik Tin Can. Mengapa? Karena perangkat jadul ini mendorong anak-anak untuk meninggalkan layar smartphone yang adiktif. Mereka ingin meminimalisasi screen time alias durasi menonton konten digital yang tidak sehat. Dengan telepon klasik ini, anak-anak belajar berkomunikasi secara langsung tanpa gangguan notifikasi media sosial.

Fakta mengejutkan datang dari sisi penjualan. Startup pengembang Tin Can, yaitu Tin Can Untechnologies Inc., mengklaim bahwa unit yang sudah terjual mencapai ratusan ribu! Sebagian besar kesuksesan ini ternyata berasal dari rekomendasi dari mulut ke mulut. Luar biasa, bukan? Tanpa iklan gencar, produk ini laris manis bagai kacang goreng.

Tunggu Dulu, Fungsinya Sangat Berbeda!

Jangan bandingkan Tin Can dengan smartphone modern kesayangan Anda. Perusahaan sengaja merancang perangkat ini dengan fungsi yang sangat terbatas. Pengguna hanya bisa mencolokkannya langsung ke stopkontak. Namun, jangan remehkan daya tariknya! Tin Can sudah dilengkapi dengan speakerphone, panggilan cepat (speed dial), dan mesin penjawab otomatis. Fitur-fitur ini cukup untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dasar anak-anak.

Yang lebih keren lagi, pemilik dapat melakukan panggilan gratis antar sesama perangkat Tin Can. Mereka juga bisa dengan mudah menghubungi layanan darurat kapan saja. Namun, bagaimana jika ingin menelepon nomor di luar jaringan? Jangan khawatir! Pihak pengembang menyediakan paket berlangganan dengan harga terjangkau, yaitu sekitar 10 dolar AS (atau sekitar Rp 172.000) per bulan. Paket ini memungkinkan panggilan ke nomor-nomor yang sudah disetujui orang tua terlebih dahulu. Sistem ini memberi rasa aman ekstra bagi keluarga.

Sekolah Mulai Suntik Mati Smartphone

Selain digandrungi orang tua, sejumlah sekolah kini mulai mengadopsi Tin Can secara massal. Mereka menjadikannya bagian dari program pembatasan penggunaan smartphone sejak dini. Mari kita lihat studi kasus di Nativity Parish School, dekat Kansas City. Di sekolah ini, sekitar 95 persen keluarga dengan anak dari taman kanak-kanak hingga kelas lima sudah bergabung dalam program unik ini. Menariknya, siswa-siswa kembali menggunakan direktori kertas untuk mencatat kontak teman-teman mereka. Mereka mengikuti cara lawas yang nyaris punah. Suasana sekolah pun terasa lebih hangat dan personal!

Mencegah Drama Grup Chat yang Melelahkan

Inisiatif serupa juga muncul dari St. James’ Episcopal School di Los Angeles. Pihak sekolah berencana membagikan perangkat ini kepada 220 keluarga sebelum libur musim panas tiba. Apa tujuan mulia di balik langkah ini? Mereka ingin menjaga komunikasi antar siswa tanpa harus bergantung pada grup chat yang sering memicu masalah sosial. Selama ini, grup chat sering membuat anak merasa tersisihkan atau cemas. Dengan telepon suara, setiap anak mendapat perlakuan yang sama. Tidak ada yang diabaikan atau dikucilkan.

Sang CEO Membongkar Alasan di Balik Kesuksesan

CEO Tin Can Untechnologies, yaitu Chet Kittleson, dengan jujur menyatakan bahwa produknya lahir dari rasa khawatir yang mendalam. Ia melihat cara anak-anak berkomunikasi saat ini sudah sangat kacau. Menurutnya, percakapan suara dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan komunikasi yang jauh lebih baik. Mereka belajar mendengarkan intonasi, memahami jeda dalam percakapan, dan mengekspresikan emosi dengan tepat. Kemampuan-kemampuan ini tidak akan mereka dapatkan dari berkirim teks atau emoji semata. Kittleson percaya bahwa bicara langsung melatih keberanian dan empati, dua hal yang mulai luntur di era digital.

Lonjakan Permintaan Bikin Server Jebol!

Permintaan terhadap perangkat jadul ini melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir. Orang tua berbondong-bondong mencari alternatif selain smartphone yang merusak fokus anak. Puncaknya terjadi pada Hari Natal lalu. Perusahaan sampai mengalami gangguan server yang cukup parah akibat lonjakan instalasi dan aktivasi perangkat baru. Sungguh momen yang tidak terduga bagi sebuah startup teknologi rendah!

Sayangnya, Belum Untuk Kita

Ada kabar pahit bagi para penggemar di luar Amerika Utara. Saat ini, Tin Can baru tersedia di Amerika Serikat dan Kanada saja. Pihak pengembang belum memberikan kepastian apakah perangkat menarik ini akan dirilis di negara-negara lain. Demikian informasi yang dihimpun dari Times of India. Kita hanya bisa berharap semoga perangkat revolusioner ini segera menjangkau pasar global. Siapa tahu, suatu hari nanti anak-anak Indonesia juga bisa menikmati serunya telepon jadul tanpa gadget canggih yang bikin pusing.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version