Jakarta (newtechclub.com) – Platform media sosial raksasa di China kini ramai-ramai memasang label khusus untuk konten buatan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini menyusul aturan baru dari pemerintah yang mulai berlaku. Dengan aturan ini, pengguna bisa lebih jeli membedakan mana konten asli dan mana yang dibikin AI. Keren, kan?
Menurut laporan Engadget, Rabu lalu, platform seperti WeChat, Douyin (versi China dari TikTok), Weibo, hingga Xiaohongshu aktif menandai konten AI. Baik itu teks, gambar, audio, maupun video, semua wajib punya tanda pengenal. Bahkan, watermark kini disisipkan langsung di metadata konten. Jadi, asal-usul konten jelas terdeteksi. Dengan begitu, pengguna nggak bakal bingung lagi soal keaslian konten yang mereka lihat.
WeChat, misalnya, getol mengarahkan penggunanya untuk proaktif melabeli konten AI. Mereka tegas melarang siapa pun menghapus, mengedit, atau menyembunyikan label yang sudah dibubuhkan sistem. Langkah ini bikin platform lebih transparan. Selain itu, WeChat juga menekankan aturan ketat: jangan coba-coba pakai AI untuk bikin konten palsu, langgar hak cipta, atau melakukan aktivitas ilegal. Kalau bandel, siap-siap kena sanksi!

Sementara itu, Douyin nggak kalah serius. Mereka mewajibkan setiap unggahan yang pakai AI harus diberi label jelas. ByteDance, perusahaan di balik Douyin, punya teknologi canggih untuk mendeteksi asal-usul konten lewat metadata. Jadi, nggak ada alasan buat ngeles! Di sisi lain, Weibo melangkah lebih jauh dengan menyediakan fitur pelaporan. Pengguna bisa laporkan konten AI yang nggak diberi label sesuai aturan. Keren, ya, kolaborasi pengguna dan platform begini?

Aturan ini lahir dari regulasi ketat yang dirancang empat lembaga pemerintah China, termasuk Administrasi Ruang Siber China, Kementerian Industri dan Teknologi Informasi, Kementerian Keamanan Publik, serta Administrasi Radio dan Televisi Nasional. Tujuannya? Mengendalikan banjirnya konten AI yang kini membanjiri dunia digital. Dengan regulasi ini, pemerintah ingin memastikan ruang digital tetap aman dan terpercaya.
Beralih ke April lalu, Administrasi Ruang Siber China meluncurkan kampanye tiga bulan untuk menertibkan aplikasi dan layanan berbasis AI. Kampanye ini fokus memastikan semua platform patuh pada aturan baru. Hasilnya, platform medsos kini berlomba-lomba terapkan label AI demi menjaga kepercayaan pengguna. Langkah ini juga membantu mencegah penyebaran konten menyesatkan yang bisa bikin gaduh.
Pemberian label wajib ini punya dampak besar. Pengguna kini lebih mudah membedakan konten autentik dengan konten buatan AI yang kadang bikin bingung. Transparansi ini bikin pengalaman bermedsos jadi lebih aman dan nyaman. Bayangin, kamu scroll Douyin atau Weibo, terus tahu persis mana konten bikinan manusia dan mana yang dibuat AI. Nggak takut kena tipu lagi, deh!
Di sisi lain, tren serupa mulai muncul di Amerika Serikat. Beberapa perusahaan teknologi di sana juga menerapkan label untuk konten AI generatif. Bahkan, Google bikin gebrakan dengan Pixel 10, ponsel pertama yang menyematkan kredensial konten C2PA langsung di aplikasi kamera. C2PA, atau Koalisi untuk Asal-Usul dan Keaslian Konten, memastikan konten punya “akta kelahiran” digital yang jelas. Keren, bukan, teknologi makin cerdas bikin dunia digital lebih jujur?
kunjungi laman berita terkini di indonesiaartnews.or.id
Dengan aturan ini, China dan negara lain menunjukkan komitmen untuk bikin ruang digital lebih transparan. Langkah ini nggak cuma soal teknologi, tapi juga soal kepercayaan. Jadi, kapan Indonesia ikutan, ya? Yuk, kita pantau terus!







