Newtechclub.com – Akhirnya, usaha China untuk melepas ketergantungan pada chip kecerdasan buatan buatan Amerika Serikat mulai memperlihatkan hasil nyata. Bayangkan, startup AI asal China, DeepSeek, dengan berani merilis pratinjau model AI terbaru yang sudah dioptimalkan secara khusus agar bisa berjalan mulus di chip Ascend punya Huawei. Tindakan ini jelas mengirimkan sinyal kuat bahwa ekosistem AI China sedang bergerak keluar dari bayang-bayang GPU Nvidia.
Putus Rantai Ketergantungan pada Nvidia
Sebelumnya, hampir semua model AI global, termasuk yang berkembang pesat di China, dibangun di atas ekosistem CUDA milik Nvidia untuk proses pelatihan dan inferensi. Namun, kini DeepSeek dengan tegas memutus pola ketergantungan itu. Mengapa? Karena model V4 mereka diklaim sudah menyelesaikan adaptasi inferensi pada platform Ascend milik Huawei. Hasilnya, implementasi pada chip domestik buatan perusahaan China sendiri itu mulai bergeser dari sekadar uji coba menuju penerapan yang benar-benar praktis.
Bisa Jalan di Dua Ekosistem Sekaligus
Yang lebih seru, DeepSeek V4 hadir dalam dua varian keren: Pro dan Flash. Varian Pro diposisikan sebagai versi paling canggih, sementara Flash hadir sebagai pilihan yang lebih ringan. Poin paling menariknya, untuk pertama kalinya DeepSeek berani menempatkan GPU Nvidia dan NPU Ascend milik Huawei dalam satu kerangka validasi perangkat keras. Skema fine-grained expert parallelism yang mereka kembangkan pun sudah terverifikasi bisa berjalan di kedua platform tersebut. Keren banget, kan?
Direktur riset semikonduktor dari firma konsultan Omdia, He Hui, menganggap langkah ini sebagai “perkembangan besar,” terutama bagi industri AI di China. Menurutnya, chip Ascend buatan Huawei merupakan alternatif domestik terbaik pengganti Nvidia. Dukungan penuh terhadap DeepSeek V4 membuktikan bahwa model AI papan atas China kini sudah bisa berjalan mulus di perangkat keras buatan dalam negeri. Pernyataan ini dirilis langsung oleh Hui kepada Reuters, dan pasti membuat banyak pihak merinding.
Performa Gila-gilaan yang Bikin Saingan Gigit Jari
Dari sisi performa, jangan tanya lagi! DeepSeek dengan percaya diri mengklaim bahwa model V4 mampu memproses lebih dari satu juta token dalam satu waktu. Kapasitas ini setara dengan kemampuan konteks model raksasa seperti GPT-5.4 dari OpenAI dan Claude Opus 4.6 dari Anthropic. Sebagai informasi, token adalah satuan untuk menghitung jumlah karakter atau kata yang diproses atau dihasilkan model AI—satu token bisa mewakili satu karakter atau satu kata dalam kalimat, tergantung sistem hitung yang kompleks.
Model AI DeepSeek V4 ini juga diklaim membawa segudang peningkatan, terutama dalam kemampuan agen (agentic capability), pengetahuan dunia, serta performa penalaran. Semua tolok ukur itu menjadi indikator utama dalam evaluasi AI generasi berikutnya. Untuk varian Pro, DeepSeek mengklaim bahwa model ini mampu mengungguli model open-source lainnya, khususnya dalam penguasaan pengetahuan dunia, dan hanya berada di bawah model tertutup Gemini-Pro-3.1 milik Google.
Selain itu, DeepSeek menegaskan bahwa V4 sangat cocok untuk pekerjaan AI berbasis agen (AI agents). Model ini mampu mengeksekusi tugas-tugas yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar chatbot biasa. Bahkan, sejak dirilis, DeepSeek V4 langsung mendapat sambutan hangat di komunitas global. Model ini tercatat sebagai salah satu yang paling cepat meroket ke peringkat teratas di platform Hugging Face—forum populer tempat para developer saling berbagi dan menjalankan model machine learning.
Meskipun membawa segudang kemampuan canggih, model AI terbaru dari DeepSeek ini jujur saja masih belum mendukung kemampuan multimodal, misalnya pembuatan gambar dan video. Tapi, untuk urusan teks dan logika, ia sudah seperti dewa.
Peluncuran versi pratinjau DeepSeek V4 ini terjadi di tengah gencarnya pembatasan ekspor chip canggih oleh Amerika Serikat. Kebijakan itu justru mendorong China untuk memacu percepatan pengembangan teknologi mandiri. Jadi, bisa dibilang, sanksi itu balasannya membakar semangat inovasi lokal.
Namun, jalan DeepSeek tak selalu mulus. Perusahaan ini saat ini dilaporkan sedang menghadapi kritik tajam dari AS dan sejumlah perusahaan pesaing. Mereka menilai kesuksesan DeepSeek tidak lebih dari hasil pemanfaatan teknologi buatan AS. Tuduhan ini tentu saja langsung dibantah keras oleh pihak DeepSeek. Mereka menyatakan tidak pernah sengaja menggunakan data sintesis yang dihasilkan oleh perusahaan rival, termasuk OpenAI. Meski demikian, DeepSeek pun mengakui bahwa mereka memang menggunakan chip Nvidia, tetapi perusahaan enggan menjelaskan apakah chip tersebut termasuk yang terkena pembatasan ekspor atau tidak.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

