Newtechclub.com – OpenAI akhirnya meluncurkan senjata rahasia terbaru mereka untuk dunia pemrograman, yaitu GPT-5.2 Codex. Secara mengejutkan, model kecerdasan buatan (AI) ini hadir sebagai versi spesial yang benar-benar mereka optimalkan untuk ekosistem Codex. Sebagai informasi, Codex sendiri merupakan agen rekayasa perangkat lunak berbasis cloud yang sengaja dirancang untuk menjadi partner coding paling setia. Bahkan, OpenAI dengan percaya diri menyebut bahwa GPT-5.2 Codex kini telah mereka bekali dengan fitur Context Compaction untuk pekerjaan pemrograman marathon. Selain itu, model ini juga mereka klaim jadi lebih tangguh dalam menangani perubahan kode besar-besaran seperti refactor dan migrasi. Yang paling menggoda, AI teranyar ini konon berkinerja lebih apik di Windows dan dibekali dengan pertahanan siber yang jauh lebih solid!
Soal keamanan, OpenAI benar-benar berani angkat bicara! Mereka secara terang-terangan mengeklaim bahwa GPT-5.2 Codex jauh lebih kebal terhadap serangan siber dibandingkan semua model AI yang pernah mereka rilis sebelumnya. Kabar baiknya, GPT-5.2 Codex ini sudah bisa Anda coba mulai Kamis (18/12/2025) khusus untuk pengguna ChatGPT berlangganan. Sementara itu, untuk akses API-nya, OpenAI berjanji akan menyusul dalam hitungan minggu ke depan.
Lantas, apa saja sih kehebatannya? Pertama-tama, OpenAI menjelaskan bahwa GPT-5.2 Codex dengan bangga mereka bangun di atas fondasi kemampuan generasi sebelumnya, seperti GPT-5.2 dan GPT-5.1-Codex-Max. Model anyar ini secara ajaib mereka klaim lebih jago dalam memahami konteks panjang, melakukan panggilan alat (tool calling) yang lebih presisi, meningkatkan akurasi fakta, serta mendukung native compaction. Oleh karena itu, sederet peningkatan mutakhir inilah yang konon membuat GPT-5.2 Codex jauh lebih bisa diandalkan untuk tugas coding yang berlarut-larut. Hebatnya lagi, Codex dengan lincah dapat menyelesaikan tugas-tugas rumit seperti refactoring besar, migrasi kode, hingga pembuatan fitur baru tanpa mudah lupa konteks, meskipun prosesnya berjam-jam atau berulang kali.
Nah, buat yang suka lihat angka, performa GPT-5.2 Codex di benchmark juga bakal bikin melongo! Model AI ini secara gemilang berhasil meraih skor tertinggi pada dua tes andalan, yaitu SWE-Bench Pro dan Terminal-Bench 2.0. Perlu diketahui, kedua tolok ukur tersebut sengaja dirancang untuk menguji sejauh mana seorang coding agent bisa bekerja layaknya programmer beneran. Sebagai contoh, pada SWE-Bench Pro, sebuah model akan diberikan repositori dan harus menghasilkan patch untuk menyelesaikan masalah rekayasa perangkat lunak yang realistis. Sementara itu, Terminal-Bench 2.0 dengan ketat menguji kemampuan model saat bekerja di terminal sungguhan, seperti kompilasi kode, pelatihan model, dan pengaturan server. Hasilnya? Sungguh fantastis! GPT-5.2 Codex berhasil mengantongi skor akurasi 56,4% di SWE-Bench Pro dan 64% di Terminal-Bench 2.0.
Tunggu, masih ada lagi! GPT-5.2 Codex juga dikabarkan punya mata yang lebih tajam. Kini, ia mampu membaca screenshot, diagram teknis, grafik, atau antarmuka dengan akurasi yang jauh lebih tinggi. Bahkan, Codex secara ajaib bisa mengubah desain mockup menjadi prototipe fungsional dalam waktu singkat. Tidak berhenti di situ, ia juga siap membantu pengembang mengembangkan prototipe tersebut hingga tahap produksi melalui sesi kolaborasi coding yang interaktif.
Namun, yang paling bikin lega adalah fokus mereka pada keamanan. OpenAI menegaskan bahwa perkembangan model AI mereka di bidang cybersecurity memang sedang melesat. Kemampuan ini mulai naik drastis dari GPT-5 Codex, melonjak lagi di GPT-5.1 Codex-Max, dan kini mencapai puncak baru di GPT-5.2 Codex. Sebagai bukti nyata, OpenAI memaparkan sebuah kisah menarik yang melibatkan peneliti keamanan, Andrew MacPherson. Saat itu, Andrew yang menjabat sebagai principal security engineer di Privy, mencoba menggunakan GPT-5.1-Codex-Max bersama Codex CLI untuk mempelajari kerentanan di React. Akan tetapi, di tengah penyelidikan, Andrew justru mendapati Codex menunjukkan perilaku mencurigakan yang membuatnya merasa perlu penyelidikan lebih mendalam. Alhasil, kerentanan tersebut akhirnya berhasil dilaporkan secara bertanggung jawab kepada tim React. Dari sini, OpenAI berargumen bahwa kejadian ini justru membuktikan bagaimana sistem AI secara signifikan dapat mempercepat pekerjaan keamanan defensif di perangkat lunak dunia nyata.
Sejalan dengan sistem keamanan yang semakin diperketat, OpenAI kini juga mulai menerapkan kontrol akses super ketat melalui program bernama Trusted Access Pilot. Program eksklusif ini hanya akan mereka berikan via undangan khusus kepada pihak-pihak pilihan, yaitu profesional keamanan yang telah terverifikasi dan punya rekam jejak pengungkapan kerentanan yang bertanggung jawab, serta organisasi dengan kasus penggunaan cybersecurity profesional yang jelas. Dengan demikian, pihak yang terpilih nantinya akan mendapatkan akses ke model AI paling canggih mereka khusus untuk keperluan keamanan. Menarik, bukan?
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Indonesiaartnews.or.id







