Newtechclub.com – Pernah kebayang gak sih, negara sebesar China yang superpower di segala bidang, ternyata selama bertahun-tahun masih “numpang” teknologi kartu grafis buatan luar negeri buat main game? Nah, kini mimpi itu mulai mendekati kenyataan. Upaya besar-besaran Negeri Tirai Bambu untuk melahirkan GPU gaming andalan sendiri akhirnya mulai menuai hasil manis. Ya, produk bernama Lisuan LX 7G100 ini bukan lagi sekadar prototipe atau contoh uji coba yang sering gagal, melainkan sudah tersedia di pasaran dalam versi ritel yang sesungguhnya. Menariknya, ketika para reviewer di platform BiliBili mulai mengotak-atik perangkat ini, mereka mendapati bahwa performa versi jualannya ternyata melonjak jauh lebih baik jika dibandingkan dengan sampel awal yang sempat diujikan beberapa waktu lalu. Wah, pasti para gamer di sana langsung penasaran kan?
Lalu, apa yang membuat GPU ini begitu spesial di mata publik? Bukan tanpa alasan, soalnya Lisuan Technology dengan berani mengklaim bahwa mereka mengembangkan seluruh komponen GPU ini dari nol, mulai dari hardware fisik, arsitektur chip, driver, hingga ekosistem software yang menyertainya. Bayangkan, mereka gak sekadar rakit atau rebranding produk orang lain, tapi benar-benar bikin dari awal. Di atas kertas, LX 7G100 menyodok spesifikasi yang terbilang kekinian, lho. Misalnya, ia sudah dibekali memori GDDR6 sebesar 12 GB yang lumayan lega buat menyimpan tekstur game berat, empat port DisplayPort 1.4a yang siap dipasang ke monitor masa kini, serta dukungan output hingga resolusi 8K pada 60 Hz dengan teknologi HDR yang bikin visual makin tajam. Gak cuma itu, GPU ini juga kabarnya kompatibel dengan API grafis modern macam DirectX 12, Vulkan 1.3, OpenGL 4.6, dan OpenCL 3.0. Keren juga sih untuk produk lokal yang baru pertama kali muncul.
Nah, sekarang yang jadi perbincangan hangat adalah soal banderol harga. Lisuan memasang harga LX 7G100 di kisaran 3.300 yuan, atau kalau dirupiahkan kira-kira tembus Rp 8,5 juta. Dengan uang sebesar itu, sebetulnya konsumen sudah bisa melirik kartu grafis kelas menengah dari raksasa hijau, Nvidia, seperti GeForce RTX 5060 Ti yang notabene merupakan produk anyar dengan teknologi mutakhir. Oleh karena itu, wajar jika banyak pihak penasaran, apakah performa LX 7G100 mampu setara atau bahkan mengalahkan pesaing di harga yang sama? Atau jangan-jangan malah cuma jadi pajangan semata?
Sayangnya, meskipun semangat nasionalisme dan inovasi patut diacungi jempol, hasil pengujian di lapangan menunjukkan bahwa LX 7G100 masih harus menelan kenyataan pahit. Ketika diuji menggunakan benchmark sintetis andalan seperti 3DMark, performa GPU ini ternyata hanya berkutat di level GeForce RTX 3060. Perlu diingat, RTX 3060 adalah kartu grafis yang dirilis Nvidia sekitar lima tahun silam! Artinya, secara mentah, kekuatan komputasi LX 7G100 masih tertinggal cukup jauh dari produk pesaing yang sama-sama baru dan segar di pasaran. Namun, jangan buru-buru kecewa, karena potensi yang ditunjukkan masih cukup untuk membuat kita berpikir ulang tentang masa depan GPU buatan China.
Lebih lanjut, ketika para pengulas mulai menjajal performa di dunia nyata alias game-game populer, hasilnya memang kurang mengesankan jika dibandingkan langsung dengan GPU Nvidia. Sebagai contoh, di game berat seperti Cyberpunk 2077 pada resolusi 1080p dengan pengaturan FSR 3 Quality dan frame generation diaktifkan, LX 7G100 mencatatkan rata-rata sekitar 88 fps. Hmm, angka ini sebenarnya masih mulus untuk dimainkan, tapi coba lihat kompetitornya: GeForce RTX 4060 sanggup melesat hingga 232 fps, sementara Intel Arc B580 bahkan lebih galak lagi dengan torehan 243 fps. Jadi, selisihnya memang terasa seperti jarak antara langit dan bumi. Kemudian, di game yang lagi hype abis, Black Myth: Wukong, LX 7G100 cuma mampu menghasilkan sekitar 56 fps, yang masih terhitung nyaman sebenarnya, namun tetap di bawah ekspektasi untuk kartu seharga belasan juta.
Yang lebih menyedihkan justru terjadi di game balap legendaris Forza Horizon 5. Di sini, LX 7G100 hanya mampu meraih 48 fps, itupun dengan pengaturan grafis yang sudah diturunkan ke level Low. Waduh, padahal game ini terkenal optimasinya apik di banyak perangkat. Meskipun begitu, kita gak boleh menutup mata terhadap satu kemajuan positif: pengulas mencatat bahwa banyak game modern yang diuji ternyata berjalan dengan cukup stabil dan minim crash. Ini jelas merupakan lompatan besar, lho, mengingat GPU lokal China sebelumnya, seperti Moore Threads MTT S80, sempat menjadi momok karena segudang masalah kompatibilitas game yang bikin pusing, serta membutuhkan berkali-kali pembaruan driver sebelum akhirnya layak dipakai. Jadi, setidaknya LX 7G100 sudah lebih matang sejak awal rilis.
Meski demikian, pekerjaan rumah (PR) Lisuan ternyata masih menumpuk, terutama dari sisi perangkat lunak atau software. Panel driver yang disediakan untuk GPU ini saat ini masih tergolong sangat sederhana dan minim fitur. Artinya, para pengguna yang doyan otak-atik setting gak akan menemukan banyak opsi kustomisasi seperti yang biasa ada di driver Nvidia atau AMD. Fitur pemantauan sistem pun masih terbatas, sehingga agak susah buat memonitor suhu, clock speed, atau pemakaian daya secara real-time. Belum lagi kemampuan overclocking yang dilaporkan masih belum konsisten, jadi buat yang hobi ekstrak performa maksimal, sepertinya harus bersabar dulu.
Selanjutnya, satu kekurangan krusial yang bikin banyak gamer garuk-garuk kepala adalah ketiadaan dukungan untuk hardware ray tracing. Padahal, teknologi pencahayaan real-time ini sudah menjadi standar umum di GPU modern mana pun, baik dari Nvidia, AMD, maupun Intel. Di era sekarang, game-game AAA pasti mengandalkan ray tracing untuk efek visual yang lebih sinematik, sehingga ketiadaan fitur ini jelas sangat terasa. Namun, kabar baiknya, Lisuan dikabarkan telah mengonfirmasi bahwa dukungan ray tracing memang belum diusung di generasi pertama ini, melainkan baru akan dihadirkan pada GPU generasi kedua mereka di masa mendatang. Jadi, setidaknya ada secercah harapan untuk masa depan.
Akhirnya, jika melihat berbagai hasil pengujian yang cukup beragam ini, banyak pengamat dan gamer menilai bahwa LX 7G100 lebih pantas dirayakan sebagai pencapaian teknologi yang monumental bagi industri semikonduktor China, ketimbang dianggap sebagai produk ritel yang siap tempur buat para gamer sekarang. Ini adalah langkah awal yang berani dan patut diapresiasi, tapi perjalanan untuk mengejar ketertinggalan dari raksasa dunia masih sangat panjang dan berliku. Jadi, apakah GPU ini gacor atau malah zonk? Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

