Jakarta, Newtechclub – Meta Kembali Rekrut Dua peneliti top OpenAI, Jason Wei dan Hyung Won Chung, kabarnya akan memperkuat tim Superintelligence Lab milik Meta. Menurut laporan eksklusif Wired yang mengutip dua sumber dekat, keduanya resmi hengkang dari OpenAI untuk bergabung dengan raksasa teknologi Mark Zuckerberg ini. Langkah ini semakin membuktikan betapa seriusnya Meta mengejar ketertinggalan di bidang Artificial General Intelligence (AGI).
Menariknya, sumber Wired menyebut bahwa profil Slack internal kedua peneliti di OpenAI sudah dinonaktifkan, pertanda jelas bahwa mereka tak lagi aktif di perusahaan pengembang ChatGPT itu.
Siapa Jason Wei dan Hyung Won Chung?
Jason Wei bukan nama asing di dunia AI. Sebagai peneliti utama di OpenAI, ia memimpin proyek o3 dan riset mendalam (deep research). Sebelumnya, ia juga pernah berkontribusi besar di Google, terutama dalam pengembangan teknik revolusioner chain-of-thought prompting—sebuah metode yang membuat AI bisa “berpikir” langkah demi langkah layaknya manusia.
Sementara itu, Hyung Won Chung juga punya rekam jejak mengesankan di OpenAI. Ia terlibat langsung dalam pengembangan model o1 dan fokus pada riset kemampuan penalaran AI serta sistem agen cerdas. Uniknya, Wei dan Chung sudah lama bekerja sama sejak masih di Google, jadi kolaborasi mereka di Meta diprediksi bakal menghasilkan terobosan baru.
Baca juga: Google Hapus 350 Aplikasi Android Berbahaya!
Beberapa bulan terakhir, Mark Zuckerberg disebut sedang “berburu” peneliti AI terbaik di dunia. Bahkan, kabarnya Meta rela menggelontorkan paket kompensasi hingga 100 juta dolar AS untuk menarik ilmuwan top!
Ini bukan kali pertama Meta merekrut mantan peneliti OpenAI. Sebelumnya, mereka sudah memboyong Trapit Bansal, ahli AI reasoning yang juga sempat bekerja di OpenAI. Tak hanya itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa tiga peneliti lain—Lucas Beyer, Alexander Kolesnikov, dan Xiaohua Zhai—juga baru saja bergabung dengan tim Superintelligence Lab Meta dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan tambahan Wei dan Chung, tim Meta kini dipenuhi nama-nama besar seperti Jack Rae (mantan peneliti Google DeepMind) dan Johan Schalkwyk (eks pemimpin machine learning di Sesame).
Baca juga: Google Hadirkan Google Search Live Di AI Mode? Cek Detailnya!
Meta jelas tak mau kalah dari OpenAI, Google DeepMind, atau Anthropic. Dengan mendirikan Superintelligence Lab, Zuckerberg ingin menciptakan AI setara kecerdasan manusia (AGI) yang bisa berpikir, belajar, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Kenapa mereka begitu agresif?
- AI adalah masa depan – Siapa yang kuasai AI, kuasai dunia teknologi.
- OpenAI unggul lebih dulu – ChatGPT sudah jadi pemimpin pasar, Meta harus mengejar.
- Persaingan ketat – Google dengan Gemini, Anthropic dengan Claude, semua berlomba ciptakan AI terbaik.
baca juga: Apple Berencana Akuisisi Perplexity AI, Simak Detailnya
Ini adalah pukulan telak bagi OpenAI, karena kehilangan peneliti kunci berarti kehilangan ide-ide brilian yang mungkin dibawa ke pesaing. Di sisi lain, Meta semakin kuat dengan tim riset yang solid.
Apa yang bisa kita lihat ke depan?
- Perang talenta AI akan makin panas – Perusahaan akan saling rebut peneliti dengan gaji fantastis.
- Inovasi lebih cepat – Persaingan ketat biasanya memacu perkembangan teknologi.
- Meta bisa jadi “dark horse” – Jika berhasil, mereka bisa menyalip OpenAI di bidang AGI.
baca juga: Turkiye Blokir Konten Grok AI Milik Elon Musk! mengapa?
Dengan terus merekrut otak-otak terbaik di dunia AI, Meta menunjukkan keseriusannya menjadi pemimpin di bidang kecerdasan buatan super. Perpindahan Jason Wei dan Hyung Won Chung ke Superintelligence Lab hanyalah awal dari pertarungan besar antara raksasa teknologi untuk menciptakan AI tercanggih.
Sekarang, tinggal menunggu: Akankah Meta berhasil mengejar OpenAI, atau justru menciptakan sesuatu yang lebih revolusioner? Kita lihat saja!







