Newtechclub.com — Drone punya musuh bebuyatan yang nggak pernah bisa dikalahin: baterai. Mau secanggih apa pun sistem navigasinya, sekeren apa pun kameranya, ujung-ujungnya drone harus turun, mendarat, dan ngecas ulang. Capek, kan? Tapi tunggu dulu. Sebuah perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, PowerLight Technologies, baru saja menggebrak dunia penerbangan tanpa awak. Mereka mengklaim punya resep rahasia yang bikin drone bisa terbang hampir tanpa henti. Iya, hampir seperti pesawat mainan yang nggak pernah kehabisan bensin!
Gimana caranya? Mereka mengembangkan sistem transmisi daya yang pakai laser—bukan kabel, bukan colokan, tapi sinar—yang bisa mengisi ulang baterai drone saat masih ngelayap di udara. Nggak perlu landing, nggak perlu copot baterai, nggak perlu nunggu. Bayangin, drone lo bisa bolak-balik misi tanpa jeda. PowerLight menyebut sistem ini sebagai solusi revolusioner buat industri yang selama ini mati gaya gara-gara baterai boros.
Jadi begini ceritanya. Sistem ini punya dua komponen utama. Pertama, pemancar laser yang diletakkan di darat. Kedua, modul penerima alias receiver yang ditempel di badan drone. Keduanya saling terkoneksi dalam satu kesatuan sistem yang mereka sebut sebagai unmanned aerial system alias UAS. Bukan cuma sekadar pengisi daya, sistem ini juga pinter—dia bisa ngunci target, ngikutin gerakan drone, dan nembakin energi dengan presisi kayak sniper.
Laser mengunci sasaran, drone ngecas sambil ngebut
Di darat, pemancar laser itu bukan alat sembarangan. PowerLight membekalinya dengan perangkat lunak super pintar. Software ini punya kemampuan mengarahkan sinar laser dengan akurasi tingkat dewa ke drone yang lagi terbang. Bahkan meski drone-nya manuver ke kiri, ke kanan, naik, turun, si laser tetap setia nempel. Nggak goyang. Ini bukan ilmu silap mata, ini teknologi pelacakan optik yang mereka kembangkan bertahun-tahun.
Sistem ini aktif mengunci target dan melacaknya secara real-time. Alhasil, proses pengisian daya bisa berlangsung aman, stabil, dan nggak peduli seberapa lincah drone bergerak. Bayangin kayak lo lagi ngecas HP sambil jogging—tapi colokannya nggak pernah lepas. Itulah yang terjadi di sini.
Yang bikin makin gokil: hardware yang dipakai mampu mentransmisikan energi dalam skala kilowatt. Buat lo yang nggak familiar, kebanyakan laser buat riset cuma main di level miliwatt. Artinya, kekuatan laser PowerLight ini ribuan kali lipat lebih besar. Ini bukan laser penunjuk PPT, ini laser pengisi daya beneran.
PowerLight juga nggak main-main soal jangkauan. Pemancar mereka sanggup menjangkau drone di ketinggian 5.000 kaki atau sekitar 1.500 meter. Itu udah lebih dari cukup buat mayoritas drone yang ada di pasaran. Coba bandingin: drone militer kecil kayak RQ-11B Raven biasanya cuma terbang di kisaran 46 sampai 305 meter. Drone komersial besar emang bisa tembus 18 ribu meter, tapi buat operasi harian, 1.500 meter itu udah kayang.
Nggak cuma kirim listrik, drone juga bisa ngobrol balik
Nah, ini bagian yang keren banget. Sistem PowerLight nggak cuma mengirim energi satu arah. Dia juga mendukung pertukaran data dua arah. Artinya, si pemancar dan drone bisa saling ngobrol. Software di darat bisa nyambung langsung ke sistem drone buat baca data telemetri. Mulai dari posisi koordinat, kecepatan terbang, arah gerak, sampai kondisi baterai—semua kebaca real-time.
Data ini jadi senjata rahasia operator. Mereka bisa mengatur besaran daya laser secara dinamis. Misalnya, kalau baterai drone masih 80%, daya yang dikirim bisa diperkecil. Tapi kalau udah merah, langsung digeber full. Hasilnya? Pengisian daya jadi super efisien. Nggak ada energi yang terbuang sia-sia. Ini bukan cuma isi ulang, ini manajemen energi pintar.
Tom Nugent, Chief Technology Officer sekaligus salah satu pendiri PowerLight, ngomong dengan percaya diri. Menurut dia, perusahaannya lagi membangun kemampuan jaringan energi cerdas. “Pemancar kami berkomunikasi langsung dengan UAS, melacak kecepatan dan vektornya, lalu mengirimkan energi secara presisi,” katanya. Dan klaim ini bukan omong kosong. Nugent menegaskan, sistem transmisi daya dan algoritma pelacakannya udah diuji dan terbukti berhasil.
Modul receiver seberat 2,7 kilogram, tugasnya berat
Drone yang mau pakai teknologi ini harus dipasangi modul khusus. Bobotnya sekitar 2,7 kilogram. Tugas modul ini sederhana tapi krusial: menangkap energi laser dari pemancar di darat. Begitu sinar laser nyampe, energi itu langsung dikonversi jadi listrik. Caranya pakai konverter khusus yang dirancang buat cahaya laser. Prinsipnya mirip panel surya, tapi versi supercharged.
Tapi receiver ini bukan sekadar piringan penangkap sinyal. Dia juga dilengkapi modul kontrol tertanam. Modul ini secara real-time ngirim data kondisi drone balik ke operator. Komunikasinya dua arah, pake sinyal optik. Jadi, sambil drone terbang dan ngecas, operator bisa tahu persis apa yang terjadi di sana.
Ini bukan teknologi murahan. Setiap komponen dirancang dengan presisi tinggi. Bobot 2,7 kilogram mungkin keliatan berat, tapi ingat, ini bukan drone mainan. Drone yang ditargetkan buat teknologi ini adalah kendaraan udara kelas berat buat misi-misi kritis.
Penting! Teknologi ini didukung penuh Pentagon
Lo pikir ini cuma proyek iseng startup? Jangan salah. Pengembangan sistem ini dilakukan PowerLight bareng Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Ya, DoD jadi sponsor diam-diam di belakang layar. Ini bukan lagi sekadar riset universitas, ini proyek strategis militer.
Ke depan, teknologi ini bakal ditempelkan ke drone jarak jauh bernama K1000ULE. Drone ini buatan Kraus Hamdani Aerospace. Spesifikasinya? Dirancang khusus buat misi durasi panjang. Penggunanya? Angkatan Laut dan Angkatan Darat AS. Jadi, jangan kaget kalau suatu hari nanti ada drone intai yang bisa terbang berhari-hari tanpa mendarat.
Tapi jangan keburu baper. Meskipun uji coba pemancar dan receiver udah dinyatakan sukses, uji terbang penuh sistem ini belum dilakukan. PowerLight bilang, pengujian bakal dijadwalkan dalam waktu dekat. Jadi kita masih harus nunggu bukti nyata bahwa drone beneran bisa ngecas di udara tanpa hambatan. Tapi dari track record mereka, kayaknya cuma soal waktu sebelum teknologi ini benar-benar lepas landas.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id







