Jakarta (Newtechclub.com) – Sebagai penyedia layanan identitas digital terkemuka, VIDA kembali menegaskan komitmennya untuk melindungi masyarakat dari ancaman kejahatan siber, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Di era AI seperti sekarang, siapa pun bisa jadi korban—bukan hanya masyarakat biasa, tapi juga lembaga, institusi, bahkan pemimpin negara!” tegas Niki Luhur, Group CEO VIDA, dalam sebuah forum keamanan digital di Jakarta, Kamis (25/7).
Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini semakin rentan terhadap berbagai modus penipuan digital yang makin canggih.
kunjungi juga laman berita terkini di Exposenews.id
Untuk menghadapi tantangan ini, VIDA tidak bekerja sendirian. Mereka telah menjalin kerja sama erat dengan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta berbagai industri melalui sejumlah inisiatif strategis.
Salah satu bentuk nyatanya adalah partisipasi dalam program SIGUNA dan Gerakan Bersama Perlindungan Konsumen. Program ini bertujuan meningkatkan literasi digital sekaligus melindungi masyarakat dari kejahatan siber.
baca juga: Waspada! ChatGPT Bisa Seret Kamu ke Situs Ilegal
Tak hanya berkolaborasi, VIDA juga aktif merilis laporan kajian tentang berbagai modus penipuan digital yang sedang marak. Mulai dari social engineering, phishing, hingga penipuan deepfake yang memanfaatkan AI.
Niki juga mengungkapkan bahwa VIDA sedang mempersiapkan peluncuran kajian terbaru pada September mendatang. “White paper ini kami susun sebagai panduan strategis agar pelaku usaha dan masyarakat lebih waspada terhadap ancaman digital,” jelasnya.
Dengan langkah-langkah ini, VIDA berharap dapat memperkuat pertahanan digital Indonesia di tengah pesatnya adopsi AI. “Kami ingin memastikan bahwa teknologi AI digunakan untuk kebaikan, bukan kejahatan,” pungkas Niki.







